Demo FMPPF di Hari Pribumi Internasional akan di gelar secara akbar di seantero Tanah Papua, baik di Provinsi Papua maupun di Papua Barat. (Foto : dok. FMPPF/ TIFA Online)
Demo FMPPF di Hari Pribumi Internasional akan di gelar secara akbar di seantero Tanah Papua, baik di Provinsi Papua maupun di Papua Barat. (Foto : dok. FMPPF/ TIFA Online)

TIFAOnline, MANOKWARI— Demo FMPPF di Hari Pribumi Internasional sebagai symbol di bunyikannya tanda bahaya bagi generasi muda Papua terkait masa depan OAP ke depan.

Rencana aksi demo besar – besaran oleh Forum Masyarakat Papua Peduli Freeport (FMPPF) pada Kamis (9/8/2018) besok, bertepatan dengan Hari Pribumi Internasional di seantero Tanah Papua baik di Manokwari ibukota Provinsi Papua Barat dan Jayapura ibukota Provinsi Papua, bahkan juga di Jakarta.

Aksi demo FMPPF di Hari Pribumi Internasional tersebut sebagai bentuk lahirnya kesadaran kolektif seluruh rakyat Papua betapa selama ini begitu banyak kekayaan Tanah Papua yang di keruk habis untuk jutaan rakyat Indonesia dan negara tetapi 4 juta Orang Asli Papua (OAP) hingga kini hidupnya masih terbelakang dan tertinggal, bahkan Provinsi Papua dan Papua Barat berada di urutan buncit provinsi termiskin.

“Kami akan membunyikan lonceng tanda bahaya pada tanggal 9 Agustus 2018. Masa depan kami dan generasi sesudah kami sedang terancam bahaya karena pengerukan kekayaan alam secara besar-besaran di atas tanah kami tanpa memberikan kontribusi berarti bagi kesejahteraan kami !”, kata Samuel Tabuni, Penanggungjawab Demo Akbar FMPPF yang akan di gelar sehari lagi saat audiens dengan 42 anggota Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB), Senin (6/8/2018) kemarin, selama 2 jam di kantor MRPB.

Pertemuan Koordinator FMPPF dan Penanggung Jawab Demo Akbar FMPPF dengan 42 anggota MRPB di Manokwari, Senin (6/8/2018) kemarin. (Foto : Yosef Rumaseb / TIFA Online)

Rapat yang dipimpin Ketua dan Wakil Ketua MRP dan dihadiri 42 anggota MRP PB itu mendengarkan penjelasan dari Koordinator Lapangan Demo Akbar FMPPF di Manokwari Christian Yan Warinussy (Direktur LP3BH Manokwari) dan Penanggungjawab Umum Demo Samuel Tabuni.

Chriss Warinussy menyampaikan bahwa demo FMPPF di Hari Pribumi Internasional pada 9 Agustus 2018 besok akan di ikuti oleh ribuan massa dan mengambil tema utama divestasi Freeport sebagai suatu proses yang tidak melibatkan rakyat Papua.

“Surat pemberitahuan kepada Polda Papua Barat dengan tembusan kepada Ketua DPR PB dan Ketua MRP PB sudah diajukan”,kata Yan Christian Warinussy terkait perizinan demo FMPPF di Hari Pribumi Internasional itu.

Dari selebaran dan brosur yang di sebar luaskan, aksi demo FMPPF di Hari Pribumi Internasional rencananya akan di pusatkan di dua tempat, di Manokwari mengambil titik kumpul di kantor MRPB dengan tujuan menyampaikan aspirasi ke DPRPB dengan Koordinator Aksi Yan Christian Warinussy, dan Penanggung Jawab Demo Semuel Tabuni.

Sedangkan di Jayapura ada beberapa titik kumpul diantaranya di Lapangan Theys Eluay untuk wilayah Sentani, di gapura Expo dan gapura Uncen Lama bagi peserta demo dari wilayah Waena, sedangkan di Kota Jayapura dan sekitarnya titik kumpulnya di Taman Imbi, dengan tujuan ke Gedung DPRP dengan Koordinator Aksi Yusak Andato dan Pdt. Jhon Baransano

Semuel Tabuni di hadapan 42 anggota MRPB menegaskan bahwa jumlah orang Papua hanya sekitar 4 juta, kenyataannya kekayaan yang memberi makan 260 juta penduduk Indonesia dan jutaan penduduk dari negara lain, namun 4 juta penduduk asli Papua masih tetap miskin. “Freeport saja atau BP Tangguh saja seharusnya sudah cukup untuk membuat makmur orang Papua, tapi kenapa selama puluhan tahun umur Freeport di tanah ini dan selama beberapa tahun umur BP kita tetap saja miskin ?”, kata Semuel Tabuni lagi.

Menurutnya salah satu masalah yang menghambat adalah karena kesadaran orang Papua sengaja dipotong – potong menjadi penggalan kecil-kecil kemudian dimasukkan dalam satu kuali dan digoreng selama bertahun-tahun.

“kita dibuat tidak berdaya dan kita sendiri membiarkan diri kita tidak berdaya dalam situasi ini, kita dibagi dalam dua provinsi, dibuat dua MRP, dua DPR dibuat berbagai aturan sehingga kekayaan Freeport untuk Papua lebih kecil lagi hanya untuk 7 suku, begitu juga di Papua Barat, semua aturan dibuat untuk kita terpecah-pecah, kekayaan BP Tangguh hanya untuk daerah penghasil di Papua Barat, dan kita ikut – ikut saja, tanpa sadar kita dukung semua itu”, kata Semuel Tabuni berapi – api.

Menurutnya lagi bila kondisi tersebut di biarkan terus menerus, maka kekayaan SDA Papua akan dikeruk sampai habis tanpa memberikan manfaat bagi OAP, dan anak cucu kita, dan itu artinya anak cucu OAP dalam bahaya.

“Masih banyak investasi yang siap masuk mengambil kekayaan kita tanpa memberi manfaat untuk masyarakat pemilik ulayat, salah satu contoh yang saat ini sedang terjadi dan mengakibatkan protes keras adalah tambang ilegal di tanah suku Korowai, mereka ambil emas dan menyebarkan racun dan merusak lingkungan tetapi tidak membantu mengatasi masalah kesehatan, gizi, pendidikan dan kesejahteraan suku Korowai”, tegas Semuel Tabuni.

Untuk itu ia mengajak seluruh elemen di Papua untuk bangkit dan bergerak satu hati, satu suara pada 9 Agustus lusa untuk membunyikan lonceng sebagai alarm peringatan akan bahaya ke depan bagi generasi Papua untuk ambil bagian dalam demo FMPPF di Hari Pribumi Internasional, Kamis (9/8/2018) besok.

“demo akbar di Manokwari, Jayapura dan Jakarta besok untuk bangun kesadaran kita, desak pemerintah dan investor untuk menghormati hak masyarakat pribumi dalam membuat keputusan strategis menyangkut masa depan kami, semua investasi yang ada harus di evaluasi dan koreksi dan semua perundingan harus libatkan kami OAP sebagai pemilik”, katanya lagi.

Menurutnya kehadiran investor multinasional harus bisa mensejahterakan rakyat Papua sebagai satu kesatuan. (Yosef Rumaseb / Walhamri Wahid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here