Dua tahun kosong, kursi Wakil Ketua III DPRP tersandera konflik internal Gerindra, tampak (ki-ka) Radius Simbolon, Ketua Fraksi Gerindra, Yunus Wonda, Ketua DPRP, dan Elvis Tabuni, anggota Fraksi Gerindra. (Foto : Titie / TIFA Online)
Dua tahun kosong, kursi Wakil Ketua III DPRP tersandera konflik internal Gerindra, tampak (ki-ka) Radius Simbolon, Ketua Fraksi Gerindra, Yunus Wonda, Ketua DPRP, dan Elvis Tabuni, anggota Fraksi Gerindra. (Foto : Titie / TIFA Online)

TIFAOnline, JAYAPURA— Dua tahun kosong, kursi Wakil Ketua III DPRP tersandera konflik internal Gerindra, hal tersebut di sampaikan Ketua DPRP, Yunus Wonda ketika di tanyai soal ketiadaan salah satu unsur pimpinan DPRP yang sudah hampir dua tahun dan terkesan di biarkan begitu saja.

“jadi mereka di internal masih tarik ulur, masing-masing mengklaim bahwa dirinya yang berhak untuk duduk di kursi tersebut, DPR Papua tidak mau menindaklanjuti usulan yang masih bermasalah, sebab DPR Papua juga tidak menginginkan ada persoalan nantinya”, kata Yunus Wonda kepada TIFA Online melalui telepon selularnya, Kamis (23/8/2018) sore.

Ketua DPRP menjelaskan bahwa kursi Wakil Ketua III DPRP yang sebelumnya di duduki oleh Yanni, SH, yang juga adalah Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Papua, namun sejak yang bersangkutan mencalonkan diri sebagai Calon Bupati pada Pilkada Kabupaten Jayapura di 2017 lalu, sehingga sampai hari ini kursi tersebut belum ada penggantinya dan di biarkan tak bertuan.

“ada nama yang di usulkan oleh Ibu Yanni, SH selaku Ketua DPD Papua, melalui DPP Partai Gerindra untuk di proses DPRP, namun dari Fraksi Gerindra sendiri tidak setuju dengan nama itu, karena di Fraksi sendiri sudah membahas bersama dan ada nama lain yang di usulkan Fraksi, jadi ada tarik ulur antara Ketua DPD dan Fraksi Gerindra, makanya kami minta di selesaikan dulu baru kami bisa proses”, kata Yunus Wonda menyayangkan kondisi tersebut berlarut – larut, karena kursi Wakil Ketua III tersebut adalah hak Gerindra sebagai representative rakyat yang sudah memberikan suaranya.

Sebagai pimpinan di DPRP, Yunus Wonda mengaku tidak bisa mencampuri terlalu jauh internal Partai Gerindra, namun ia berharap agar Ketua DPD Gerindra Papua, Yanni, SH bisa membangun komunikasi dan koordinasi dengan kadernya di Fraksi Gerindra DPRP agar ada solusi.

”Kalau tidak mau bertemu dan duduk bersama, kapan selesainya, hanya main surat, SMS  dari jauh, ya, …. tidak akan selesai masalahnya, harus datang duduk dengan fraksi dan bicara, bahwa kebijakan partai seperti ini, tapi kalau komunikasi dari jauh, tidak akan bisa selesai, ini masalah sangat kompleks sekali untuk Gerindra ini”, kata Ketua DPRP menyesalkan tanpa bermaksud intervensi

Ketua Fraksi Gerindra di DPRP, Radius Simbolon yang juga saat ini tengah menempuh upaya hukum karena di pecat dari keanggotaan Partai Gerindra dan juga sudah di PAW namun masih melakukan perlawanan hukum, kepada TIFA Online, Kamis (23/8/2018) juga mengakui bahwa memang ada konflik internal yang hingga kini tidak ada upaya dari Ketua DPD untuk membuka komunikasi dengan Fraksi Gerindra di DPRP.

“Jadi nama yang di usulkan oleh DPP itu, Nathan Pahabol, namun saat proses pengusulan itu tidak melibatkan Fraksi sehingga inilah yang jadi persoalan, jadi kesannya sepihak maunya Ketua DPD saja, padahal kami di Fraksi sudah bermusyawarah dan sepakat Pak Elvis Tabuni, termasuk Nathan Pahabol juga sependapat dengan Fraksi, jadi itu masalahnya, makanya dari pimpinan DPRP tidak mau memproses usulan dari DPP kalau belum di selesaikan di internal kami”, kata Radius Simbolon melalui saluran telepon, Kamis (23/8/2018).

Ia juga tidak mengetahui mengapa Yanni, SH sebagai Ketua DPD terkesan menutup diri dan enggan duduk bersama anggota Fraksi membicarakan hal tersebut.

“Jadi sudah sepakat, tapi ibu Ketua tidak suka Elvis, saya dan Deki, dan karena gejolak ini pak Ketua DPRP tidak mau menindaklanjuti sebelum kami di internal selesaikan, antara Fraksi dan Ketua DPD Gerindra harus duduk bersama dan putuskan, sehingga tidak ada konflik nantinya”, kata Radius lagi.

Kendati demikian, Radius mengaku memang tidak ada ketentuan dalam AD/ART partai yang mewajibkan bahwa pengajuan nama harus berdasarkan keputusan bersama antara Ketua Partai dengan Fraksi.

“ini kan organisasi, kita musyawarah kan tidak ada salahnya toh, Namun tidak ada salahnya, pimpinan partai juga meminta saran dan masukan dari anggota Fraksi di DPRP, kita dari Fraksi sudah coba meminta komunikasi dengan Ketua DPD Gerindra, namun tidak pernah diberikan ruang maupun waktu terkait dengan itu”, kata Radius.

Menurutnya kuncinya sebenarnya di Ketua DPD apakah mau membangun komunikasi Fraksi Gerindra atau tidak.

“Jadi wajar saja kalau pimpinan DPR Papua tidak mau ambil resiko, karena memikirkan dampak yang akan timbul, kenapa harus Pak Elvis, diantara kami di Fraksi pasti ada pertimbangannya untuk partai ke depan juga, bahkan Pak Nathan juga sepaham dengan kami, jadi ada alat ukurnya, bukan suka atau tidak suka”, kata Radius lagi.

Elvis Tabuni ketika di hubungi TIFA Online, Kamis, (23/8/2018) mengatakan membiarkan kursi Wakil Ketua III DPR Papua lebih baik kosong, sebab nama yang diusulkan oleh DPD Gerindra hanya kemauan dari Ketua DPD Yanni, SH.

“Saya bilang biarkan saja itu kursi kosong, PAW anggota DPRP saja sampai sekarang tidak jelas siapa, ada dua kursi kita yang di biarkan kosong sampai hari ini belum di proses PAW-nya, Ibu Yanni sendiri dan Pak John Ibo” kata Elvis mengaku ia bersama anggota Fraksi DPR Papua menolak tegas usulan nama yang di ajukan Yanni, SH kepada DPRP tanpa melalui musyawarah dengan Fraksi Gerindra di DPRP.

Ia mengaku Gerindra Papua dalam hal ini Ketua DPD Papua tidak mau mengusulkannya untuk duduk di kursi Wakil Ketua III.

“Yang di usulkan itu Nathan,  tanpa musyawarah dengan kami di Fraksi, jadi ya jangan dilantik. Perbuatan ibu itu jahat terhadap kami orang Papua, makanya kami tolak termasuk saya, kasi tinggal kursi itu, siapapun tidak boleh duduk di situ sampai selesai masa jabatan”, tegas Elvis Tabuni.

Menurutnya apa yang di usulkan Yanni, SH adalah kemauan dan kepentingan pribadinya sebagai Ketua DPD.

“Tidak pernah dilakukan rapat terkait dengan nama tersebut, bahkan Nathan Pahabol sendiri sudah menyetujui diatas kertas dan kami semua di Fraksi setuju saya yang naik jadi Wakil Ketua, suratnya sudah di serahkan ke DPD, namun tidak pernah ada tanggapan dari Ketua DPD”,  jawab Elvis Tabuni kesal.

Soal kosongnya kursi Wakil Ketua III milik Gerindra di DPRP, TIFA Online sudah berusaha mengkonfirmasi kepada Ketua DPD Gerindra Papua, Yanni, SH, namun hingga berita ini di naikkan tidak ada jawaban dari Ketua DPD Gerindra, bahkan nampaknya nomor wartawan TIFA Online sudah di blokir.

Kepala Sekretariat DPP Partai Gerindra, Anwar Ende yang di konfirmasi TIFA Online, juga hanya membaca saja pesan WhatApp yang di kirimkan TIFA Online, tidak membalasnya. (titie adam / walhamri wahid)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here